Apply 7 Beasiswa dalam 6 Bulan Inna Yusnila Berlabuh di Korea Selatan

Apply 7 Beasiswa dalam 6 Bulan Inna Yusnila Berlabuh di Korea Selatan

1627
SHARE
Loading...

Inna Yusnila Khairani selesai menempuh pendidikan jenjang S1 pada tahun 2015. Sejak saat itu ia sudah berencana untuk melanjutkan studi program master dengan beasiswa. Ia pun membuat daftar beasiswa yang akan ia apply  tahun berikutnya. Negara tujuannya waktu itu adalah Jerman atau Negara lain di Eropa. Untuk itu, ia mendaftar beasiswa  Action 1 Erasmus+ di 3 konsorsium berbeda.

Pada akhir februari 2016 ia sedang menunggu wawancara dari konsorsium FAME yang telah dijadwalkan sebulmnya namun 1 jam setelah waktu yang telah ditentukan interviewer  belum menghubungi melalui skype. Ia pun berfikir mereka telah membatalkan secara sepihak. Sebelumnya ia sudah gagal wawancara 2 kali karena cuaca buruk di Perancis.

Selain beasiswa Erasmus mundus 3 konsorsium sekaligus ia telah mencoba 4 beasiswa lain yakni LPDP, Fulbright, AAS dan KGSP. Total 7 beasiswa ia coba selama 6 bulan sebelum akhirnya ia dinyatakan sebagai awardee KGSP.

Proses ia mendapatkan beasiswa tersebut bukan sesuatu yang ia sengaja sebelumnya. Meskipun menjadi salah satu beasiswa yang telah di –list pada tahun 2015, awal mula mendaftar beasiswa  tersebut karena perasaan “kepepet” harus berangkat studi master tahun 2016. Kurang lebih 1,5 minggu dari deadline  ia menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Dengan memakai template beasiswa sebelumnya ia menyelesaikan letter of intent, rencana studi dan essay lainnya dalam 3 -5 jam saja.

Para pendaftar beasiswa ini bisa memilih mendaftar melalui universitas atau embassy track.  Namun karena ia belum sempat melakukan kontak dengan professor di Korea dan waktu yang diperlukan untuk mengirim dokumen ke Korea tidak akan cukup ia memilih untuk mendaftar melalui embassy track.

Selain itu alasan mmendaftar melalui embassy  juga karena peluangnya lebih besar dimana pendaftar bisa memilih maksimal 3 universitas di Korea. Akhirnya awal Maret 2016 ia mengirimkan berkas ke kedutaan Korea di Jakarta.  1 bulan kemudian saat ia sedang menjadi volunteer  disuatu lembaga ia mendapatkan telepon dari Ms Lee guna memberikan undangan wawancara seminggu kemudian.

Loading...

Ia juga mengingatkan untuk membawa berkas yang dirasa kurang saat seleksi administrasi yakni dokumen yang wajib dicap notaris dan diterjemahkan lembaga tersumpah. Setelah itu ia langsung memesan tiket kereta untuk menghindari harga yang semakin mahal.

Dengan harga tiket murah ia menuju Jakarta dari Solo dengan ditemani sahabatnya. Sepanjang perjalanan mereka pun berlatih simulasi wawancara. Sesampainya di stasiun pasar senen waktu itu jam 1 pagi alhasil mereka “ngemper” di depan toko retail di stasiun pasar senen.

Untungnya ada seorang nenek yang memberi mereka Koran untuk alas. Di pagi harinya mereka menuju  kedutaan korea dengan taksi online. Sesampainya disana sahabatnya tidak diperbolehkan masuk sehingga ia harus mencari tempat berteduh lain selama Inna wawancara.

Total peserta pada jalur seleksi embassy track waktu itu 479 orang. Ketika berada di kedutaan sudah ada 4 orang peserta interview lainnya yang sudah datang, mereka pun mengenalkan diri bergiliran. Tiba waktunya ia masuk ruangan wawancara ia pun mendapatkan pertanyaan yang telah diperkirakan sebelumnya yaitu mengapa memilih Korea padahal sebelumnya ia mendaftar beasiswa di Eropa dan berorientasi kuliah di Eropa.

Ia pun telah mempersiapkan jawaban tersebut dengan lugas. Selama 45 menit ia beradu argumen dengan interviewer akhirnya keluar juga. Begitu pengumuman hasil wawancara ia pun tak menyangka bahwa ia diterima beasiswa KGSP tersebut dan kini ia sedang menempuh master di Chungnam National University, Daejeon,  Korea.

Referensi :

https://innayk.com/author/innayk/

Loading...

LEAVE A REPLY