Tinggal di Papua dan 2 kali Gagal Seleksi Berkas Tak Menyurutkan Niat...

Tinggal di Papua dan 2 kali Gagal Seleksi Berkas Tak Menyurutkan Niat Adhimas Wijaya Berburu Beasiswa S2 Hingga Australia

591
SHARE

Tinggal di Papua dengan keterbatasan listrik tak menyurutkan Adhimas Wijaya untuk berburu beasiswa. Baginya yang paling sulit dalam melakukan perburuan beasiswa adalah seleksi berkas.  perburuannya dimulai pada awal tahun 2013. Segala hal ia coba asalkan bisa sekolah gratis. Bahkan ia sudah berinvestasi 200 USD untuk mengambil tes IELTS pertamanya dengan modal nekat. Hasil dari tes tersebut  adalah 5, masih kurang untuk bisa mendaftar beasiswa. Pada bulan januari pula ia mendapatkan conditional LoA dari Universitas Groningen di Belanda. Syarat yang harus ia penuhi adalah IELTS 6.5. namun, universitas tersebut masih memberinya waktu memnuhi persyaratan tersebut, ia pun juga lebih semangat untuk mendaftar beasiswa StuNed. Ia masih belum  mendapatkan email penolakan sampai bulan Juni.

Ditengah kebimbangannya menunggu hasil beasiswa Stuned, ia menyiapkan berkas beasiswa USAID_Prestasi dari Februari – April 2013 untuk studi master ke Amerika. Pertanyaan dan essay-nya cukup rumit bahkan ia memakan waktu 2 bulan untuk menjawabnya. Harapannya untuk masuk hingga tahap interview sirna karena ia dinyatakan gagal dalam seleksi berkas. meskipun demikian masih ada semangat untuk melamar beasiswa lainnya. Beasiswa Stuned yang tak kunjung ada jawaban hingga bulan Juni, ia menganggapnya itu adalah kegagalan. Lalu pertengahan Juli 2013 ia pun dikejar deadline beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Beasiswa yang ingin ia lamar setahun yang lalu, ia tekuni tahun ini. Selama 1 bulan penuh ia ingin mengerjakan essay dan seluruh persyaratan lainnya sendiri.

Waktu itu ia sedang berlibur di Jawa timur lalu ia sempatkan untuk mengikuti kursus IELTS di kampong inggris, Pare. Pada bulan tersebut ia pun harus pulang pergi Malang – Tulungagung – Pare. Disana ia bertemu dengan Mizu Edi, gurunya sekaligus alumnus Erasmus mundus untuk mengoreksi essaynya. Beliau menyarankan Adhi untuk menulis essay yang sederhana dan original. Meskipun peluangnya untuk mendapatkan beasiswa AAS kecil ia tetap mencobanya. Setiap berkas persyaratan yang diminta ia baca kembali satu persatu. Sertifikat IELTS walaupun nilainya 5 juga ia serahkan meskipun belum memenuhi syarat. Ditambah ia telah mendapatkan surat sakti yaitu surat rekomendasi dari dosennya yang kebetulan penerima AusAid dan lulusan UNSW serta surat rekomendasi dari atasannya.

Buku

Finally, pertengahan November 2013 email yang ia tunggu dating juga. ia dinyatakan lolos berkas dan diundang untuk interview di Surabaya. Setelah 3 kali melamar beasiswa akhirnya sampai juga pada tahap interview seperti yang diimpikannya. Ia yakin setiap air mata dan kerja keras itu pasti akan terbayar. Menjadi shortlisted candidate  berarti  ada 2 langkah lagi yang arus ia selesaikan untuk menapakkan kaki di Australia yaitu interview JST dan IELTS Test.  Dari kedua test tersebut interview JST adalah tahap yang paling menentukan apakah akan diterima beasiswa atau tidak. Untuk itu ia pun berlatih menghadapi interview tersebut. Alhamdulillah, pengalaman kegagalan seleksi berkas dan usaha kerasnya membuahkan beasiswa master di Australia dengan beasiswa AAS.

 

Referensi :

https://edupapua.wordpress.com/2014/05/18/menembus-seleksi-beasiswa-aas-australia-awards-scholarship-part-1-seleksi-berkas/

https://edupapua.wordpress.com/2014/10/30/menembus-beasiswa-aas-australia-awards-scholarship-part-2-interview/

 

 

 

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.