Terus Berusaha, Iin Parlina Gagal Beasiswa Australia Lolos Fulbright ke Amerika

Terus Berusaha, Iin Parlina Gagal Beasiswa Australia Lolos Fulbright ke Amerika

2157
SHARE
interview beasiswa Fulbright

“Perjalanan Panjang Menuju Negeri Paman Sam”, Iin Parlina

Iin tak pernah memimpikan sebelumnya bisa menginjakan kaki di negeri paman sam. Awalnya ia ingin melanjutkan studi tentang bioenergy di Jepang, Belanda atau Jerman. Tetapi setelah mendengar presentasi dari AMINEF di BPPT, dorongan dari deputi dan Ibu Menik akhirnya ia memasukkan aplikasi ke AMINEF pada tahun 2013 setelah sebelumnya pada tahun 2011 ia gagal memasukkan aplikasi pada beasiswa ADS.

Satu tahun sebelumnya yakni tahun 2012 sebenarnya Iin sudah mendapat dukungan dari kantor untuk apply beasiswa Fulbright dari AMINEF. Tetapi karena persiapannya yang kurang ia merasa belum percaya diri. Yang dilakukannya selama tahun 2012 itu adalah memperdalam kemampuan bahasa inggrisnya sekaligus memperdalam materi biogas di tempat kerjanya, BPPT. Selain itu ia juga menyiapkan study objective dalam bahasa inggris dengan sebaik mungkin.  Barulah pada 13 April 2013 ia apply beasiswa Fulbright dan beasiswa Prestasi USAID serta Monbusho.

Diantara ketiga beasiswa tersebut yang pertama kali dipanggil adalah beasiswa Monbusho pada akhir Juni 2013 sedangkan jadwal interview Fulbright adalah tanggal 2 Juli 2013. Jika diterima beasiswa Monbusho ia sudah memutuskan untuk mengambil beasiswa itu saja karena resikonya jika tidak diambil adalah black-list institusi. Dengan pengalaman interview beasiswa Monbusho ia maju untuk interview beasiswa Fulbright. Alhamdulillah, ia bisa menyelesaikan interview dengan lancar walaupun sedikit nervous tetapi tidak se-nervous saat interview beasiswa Monbusho. Pada 6 Juli 2013 pihak Monbusho menunda pengumuman penerima beasiswa 3 minggu kemudian dan hasilnya ia gagal pada beasiswa tersebut. Impiannya untuk mendapatkan beasiswa dan kuliah di Jepang, Kandas.

Namun, kabar baik terjadi pada 3 september 2013 setelah menunggu cukup lama ia dinyatakan sebagai Principal candidate Fulbright Scholarship 2014. Bahagia? Tentu saja, tetapi hal itu tidak menjamin ia akan bisa berangkat studi ke Amerika. Banyak hal yang harus dipersiapkan  seperti  Ijazah,  Transkrip, membuat essay study Objective, Personal Statement, hasil tes IELTS, hasil tes GRE, CV dan signature form yang harus sudah siap dalam 8 hari. Setelah semuanya selesai perjuangan belum usai, ia juga harus mengurus acceptance letter  dari universitas yang dituju dan waktunya tidak sebentar.  Ini adalah saat paling galau iin sepanjang sejarah 2014. Bagaimana tidak? Ia mendapatkan berita bahwa 2 tahun lalu ada kandidat yang gagal studi ke Amerika gara- gara tidak mendapat acceptance letter satu pun dari 6 kampus di Amerika yang ia lamar. Alhamdulillah setelah menunggu dalam 5 bulan akhirnya ia mendapatkan acceptance letter dari OKSTATE dan WSU Pullman.

Setelah berbagai macam pertimbangan ia memutuskan untuk memilih WSU Pullman untuk tujuan universitasnya di Amerika. Setelah mendapatkan surat sakti itu persiapan keberangkatan masih belum selesai ia harus melakukan medical check up, mengurus Paspor Visa dan lain-lain.  Selain itu jadwal TOA untuk PRE-Academic Training (PAT) Program di Amerika dijadwalkan pada 1 Juli 2014 hal ini membuat ia semakin kalang kabut mempersiapkan keberangkatan ke Amerika dalam 20 hari. Alhamdulillah semua persiapan selesai dengan lancar sehingga 29 Juni 2014 ia sudah bisa berangkat ke Amerika. Perjalanan yang ditempuhnya tidak sebentar ia harus melewati 4 negara dan 4 states selama 41 jam yakni Jakarta-Singapore, Singapore-Narita, Narita-Salt Lake City, Salt Lake City – Kansas City inti, Kansas City Inti – Minneapolis, Minneapolis-Seattle dan terakhir Seattle-Pullman. Alhamdulillah perjalanan panjangnya mengantarkannya pada impiannya untuk bisa menuntut ilmu setinggi mungkin seperti kata pepatah “carilah Ilmu Hingga ke negeri China”.

Referensi :

https://iinparlina.wordpress.com

 

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.