Pengertian dan Fungsi Klausa Adalah dalam Bahasa Indonesia

Banyak istilah-istilah bahasa Indonesia yang seringkali menimbulkan kebingungan bagi sebagian orang, salah satunya adalah klausa. Klausa adalah salah satu bagian dari sebuah kalimat yang memiliki subyek dan predikat yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan kalimat lain. Meskipun terdengar rumit, namun sebenarnya klausa adalah hal yang cukup penting untuk dipahami dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas secara lebih detail mengenai klausa beserta contoh-contohnya yang mudah dipahami. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Apa Itu Klausa?

Klausa adalah konsep dasar dalam tata bahasa Indonesia. Kata klausa berasal dari bahasa Latin dan mengacu pada unsur dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat. Klausa ini merupakan unsur terkecil dari kalimat yang memiliki makna sendiri, artinya klausa tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat yang utuh. Klausa terdiri dari beberapa macam jenis, antara lain klausa utama, klausa bebas, dan klausa terikat.

Klausa utama merupakan klausa yang diandalkan dalam sebuah kalimat. Klausa ini memiliki fungsi sebagai penjelas pokok dalam sebuah kalimat. Klausa utama ini juga memiliki hubungan dengan klausa-klausa lain yang ada di dalam sebuah kalimat. kalimat yang memiliki tanda titik dalam bentuk simbol “.” merupakan kalimat yang sudah tuntas dan mengandung klausa utama.

Klausa bebas memiliki arti yang lebih jelas dan ekspresif dari klausa utama. Klausa bebas seringkali dipakai untuk menegaskan sebuah konsep tertentu dalam sebuah kalimat. Klausa bebas ini seringkali ditandai dengan adanya tanda koma, sehingga mudah dikenali oleh pembaca.

Klausa terikat merupakan klausa yang menyertai klausa utama dalam sebuah kalimat. Klausa terikat ini memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu memberikan informasi tambahan tentang klausa utama yang tidak bisa dipisahkan. Klausa terikat ini seringkali dibentuk oleh kata-kata seperti “yang” dan “dengan” serta kata sambung yang lain.

Berdasarkan jenisnya, klausa terdiri dari dua macam, yaitu klausa dependent dan independent. Klausa dependent merupakan klausa yang tidak bisa berdiri sendiri dan harus selalu dikombinasikan dengan klausa independent untuk membentuk sebuah kalimat yang utuh. Klausa dependent terdiri dari klausa noun, adjective, dan adverbial.

Klausa independent merupakan klausa yang bisa berdiri sendiri sebagai kalimat yang utuh. Klausa independent juga terdiri dari beberapa macam jenis antara lain klausa nominal, klausa verbal, dan klausa adverbial. Klausa independent ini lebih sering dipakai dalam kalimat bersusun atau kalimat majemuk.

Kemampuan membangun kalimat yang efektif dan tepat sangat bergantung pada pemahaman kita tentang konsep klausa. Dengan memahami konsep klausa, kita dapat mengekspresikan pikiran dan ide dengan lebih efektif dalam sebuah kalimat. Maka, sangat penting bagi kita untuk mempelajari dan memahami konsep klausa dalam bahasa Indonesia.

Dalam penggunaan sehari-hari, klausa sangatlah penting terutama dalam saat menulis karya sastra, esai, laporan, atau memo. Penggunaan tata bahasa yang benar dan tepat merupakan bentuk yang jelas dari kemampuan komunikasi yang baik dalam tulisan.

Dengan memperoleh pengertian yang tepat tentang klausa, kita dapat memperbaiki penulisan kita dan membuat kalimat menjadi lebih jelas dan terorganisir dengan baik. Dalam penulisan, kita harus memastikan penggunaan klausa yang tepat dan mengikuti aturan tata bahasa Indonesia. Apabila kita dapat menguasai konsep klausa, kita akan dapat membangun kalimat yang lebih efektif dan mampu mengkomunikasikan ide dengan lebih jelas dan efektif.

Jenis-jenis Klausa

Klausa adalah unsur kalimat yang paling kecil dan memiliki satu predikat atau kata kerja. Di dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa jenis klausa. Yuk, kita simak penjelasannya berikut ini!

1. Klausa Utama

Klausa utama atau yang sering disebut klausa induk adalah klausa yang memiliki hubungan langsung dengan makna keseluruhan kalimat. Klausa ini bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utama atau diakhiri dengan klausa tambahan. Misalnya, “Aku pergi ke pasar.” Kalimat ini terdiri dari satu klausa utama berupa “Aku pergi ke pasar”.

2. Klausa Adverbia

Klausa adverbia adalah klausa yang berfungsi sebagai kata keterangan dalam kalimat. Klausa ini dapat menunjukkan waktu, tempat, alasan, cara, atau tujuan. Klausa adverbia umumnya diawali dengan kata penghubung atau subordinatif seperti “ketika”, “sejak”, “jika”, “meskipun”, “agar”, dan lain sebagainya.

Klausa adverbia yang menyatakan waktu biasanya menggunakan kata penghubung seperti “sejak”, “ketika”, “sementara”, “saat”, atau “setelah”. Misalnya, “Saya sudah tidur ketika dia menelepon saya.”

Klausa adverbia yang menyatakan tempat biasanya menggunakan kata penghubung seperti “di mana”, “ke mana”, atau “dari mana”. Misalnya, “Aku akan menunggu kamu di taman.”

Klausa adverbia yang menyatakan alasan atau karena biasanya menggunakan kata penghubung seperti “karena”, “sebab”, atau “dikarenakan”. Misalnya, “Aku sakit gigi karena makan es krim terlalu sering.”

Klausa adverbia yang menyatakan cara biasanya menggunakan kata penghubung seperti “dengan cara”, “dengan memasak” atau “dengan membeli”. Misalnya, “Kita dapat menyimpan makanan dengan cara mengeringkannya atau mengukusnya.”

Klausa adverbia yang menyatakan tujuan biasanya menggunakan kata penghubung seperti “supaya” atau “agar”. Misalnya, “Aku makan buah-buahan agar tetap sehat.”

3. Klausa Relatif

Klausa relatif adalah klausa yang berfungsi sebagai kata sambung dalam kalimat. Klausa ini memperkenalkan suatu kata benda atau tempat yang ditujukan secara khusus. Klausa relatif biasanya diawali dengan “yang”, “yang mana”, atau “di mana”. Misalnya, “Rumah yang saya tinggali ada di kota.”

Klausa relatif juga dapat digunakan untuk menggantikan kalimat sederhana. Misalnya, “Buku yang dibaca oleh anak itu sangat menarik.”

4. Klausa Infinitif

Klausa infinitif adalah klausa yang memiliki bentuk verb (kata kerja) infinitif atau bare infinitive. Klausa ini biasanya digunakan untuk menyatakan tujuan atau maksud dalam kalimat. Misalnya, “Saya pergi ke toko untuk membeli baju.”

5. Klausa Pasif

Klausa pasif adalah klausa yang subjeknya menerima tindakan dalam kalimat. Klausa ini umumnya diawali dengan kata kerja bentuk pasif seperti “dibuat”, “dikirim”, atau “didirikan”. Contohnya, “Rumah itu dibangun oleh arsitek terkenal.”

Nah, itulah berbagai jenis klausa yang ada dalam bahasa Indonesia. Dengan mengetahui jenis-jenis klausa ini, diharapkan Anda bisa lebih mudah dalam menyusun kalimat yang baik dan benar.

Fungsi Klausa dalam Kalimat

Klausa adalah kelompok kata dalam bahasa Indonesia yang terdiri dari subjek, predikat dan objek atau pelengkap. Fungsi klausa dalam kalimat sangat penting karena klausa memegang peran penting dalam memberikan informasi dan menyampaikan maksud tertentu dalam kalimat. Ada beberapa fungsi klausa dalam kalimat, yaitu:

1. Fungsi sebagai subjek

Klausa dapat berfungsi sebagai subjek dalam suatu kalimat. Fungsi ini umumnya dimulai dengan kata penghubung “bahwa”. Contohnya adalah:

“Bahwa kesehatan adalah hal yang penting”, di mana klausa “bahwa kesehatan adalah hal yang penting” menjadi subjek dari kalimat tersebut.

2. Fungsi sebagai objek

Klausa juga dapat berfungsi sebagai objek dalam kalimat. Fungsi ini umumnya dimulai dengan kata seperti “yang” atau “apa”. Contohnya adalah:

“Saya mencintai seseorang yang berasal dari luar negeri”, di mana klausa “yang berasal dari luar negeri” menjadi objek dari kata kerja “mencintai”.

“Saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan”, di mana klausa “apa yang sedang mereka lakukan” sebagai objek dari kata kerja “tahu”.

3. Fungsi sebagai Pelengkap

Fungsi ketiga dari klausa dalam kalimat adalah sebagai pelengkap. Pelengkap adalah kata atau kelompok kata yang memperjelas atau memberikan informasi lebih lanjut tentang subjek atau objek. Contohnya adalah:

“Dia merasa senang ketika menjalankan hobi barunya”, di mana klausa “ketika menjalankan hobi barunya” sebagai pelengkap dari kata “senang”.

“Saya mengetahui bahwa mereka akan segera berkunjung ke rumahku”, di mana klausa “bahwa mereka akan segera berkunjung ke rumahku” sebagai pelengkap dari kata “mengetahui”.

Klausa sebagai pelengkap dalam kalimat dapat diawali dengan kata keterangan waktu, tempat, atau kondisi. Klausa pelengkap juga dapat digunakan untuk menyampaikan penjelasan tambahan tentang subjek atau objek dalam kalimat. Penting untuk diperhatikan bahwa posisi klausa pelengkap dalam kalimat dapat berbeda-beda tergantung pada jenis kalimatnya.

Kesimpulan

Klausa memiliki peran penting dalam kalimat karena memberikan informasi dan menyampaikan maksud tertentu. Ada tiga fungsi klausa dalam kalimat, yaitu sebagai subjek, objek, atau pelengkap. Sebagai subjek, klausa dimulai dengan kata penghubung “bahwa” dan sebagai objek, klausa dimulai dengan kata seperti “yang” atau “apa”. Fungsi ketiga dari klausa adalah sebagai pelengkap, yang diawali dengan kata keterangan waktu, tempat, atau kondisi. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat tentang klausa sangatlah penting dalam menghasilkan kalimat yang jelas dan efektif.

Struktur Klausa dalam Kalimat

Klausa adalah bagian dari kalimat yang setidaknya terdiri dari subjek dan predikat. Penggunaannya dalam kalimat sangat penting untuk menjelaskan ide atau informasi yang ingin disampaikan. Penggunaan klausa juga bergantung pada jenis kalimat yang digunakan.

Ada beberapa jenis struktur klausa dalam kalimat, yaitu:

1. Klausa Utama

Klausa Utama adalah bagian dari kalimat yang merupakan inti dari kalimat tersebut. Klausa ini bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan klausa lainnya. Contoh:

  • Saya suka makan nasi goreng. (Klausa utama: Saya suka makan nasi goreng)
  • Mereka pergi ke bioskop, tetapi filmnya tidak bagus. (Klausa utama: Mereka pergi ke bioskop)
  • Semua orang berteriak ketika mendengar kabar tersebut. (Klausa utama: Semua orang berteriak)

2. Klausa Nominal

Klausa Nominal berfungsi sebagai subjek atau objek dalam kalimat. Klausa ini diawali dengan kata tanya seperti “apa”, “siapa”, atau “bagaimana”, atau dengan kata penghubung seperti “bahwa”, “apakah”, atau “bagi”. Contoh:

  • Apa yang kita lakukan sekarang? (Klausa nominal sebagai subjek)
  • Saya tidak tahu bahwa dia sakit. (Klausa nominal sebagai objek)
  • Bagaimana kamu bisa melakukan itu? (Klausa nominal sebagai objek)

3. Klausa Relatif

Klausa Relatif digunakan untuk memberikan informasi tambahan tentang subjek atau objek dalam kalimat. Klausa ini diawali dengan kata relatif seperti “yang”, “apa”, atau “siapa”. Contoh:

  • Siswa yang cerdas biasanya mendapatkan nilai bagus. (Klausa relatif: yang cerdas)
  • Saya mendapat penghargaan dari bos yang sangat saya hormati. (Klausa relatif: yang sangat saya hormati)
  • Anak-anak yang suka membaca buku di perpustakaan akan mendapat sertifikat. (Klausa relatif: yang suka membaca buku di perpustakaan)

4. Klausa Adverbial

Klausa Adverbial berfungsi sebagai keterangan dalam kalimat. Klausa ini memberikan informasi tentang waktu, tempat, cara, atau sebab-akibat dalam kalimat. Klausa adverbial juga diawali dengan kata tanya seperti “ketika”, “dimana”, “bagaimana”, atau dengan kata penghubung seperti “karena”, “sebelum”, atau “sesudah”.

Terdapat 7 jenis klausa adverbial dalam bahasa Indonesia:

Klausa Adverbial Waktu

Klausa ini memberikan informasi tentang kapan suatu kejadian terjadi atau akan terjadi. Klausa adverbial waktu diawali dengan kata tanya “kapan”. Contoh:

  • Saat dia tiba di rumah, saya sudah tidur. (Klausa adverbial waktu: Saat dia tiba di rumah)
  • Kapan kamu akan datang ke acara ulangtahunku? (Klausa adverbial waktu: Kapan kamu akan datang)
  • Tadi sore, ketika sedang main, hujan turun. (Klausa adverbial waktu: ketika sedang main)

Klausa Adverbial Tempat

Klausa ini memberikan informasi tentang dimana suatu kejadian terjadi atau akan terjadi. Klausa adverbial tempat diawali dengan kata tanya “dimana”. Contoh:

  • Kita pergi ke kafe dimana kita biasa bertemu. (Klausa adverbial tempat: dimana kita biasa bertemu)
  • Saya melihatnya di pasar tadi siang. (Klausa adverbial tempat: di pasar tadi siang)
  • Dia bertemu dengan sang pacar di museum seni. (Klausa adverbial tempat: di museum seni)

Klausa Adverbial Cara

Klausa ini memberikan informasi tentang bagaimana suatu kejadian terjadi atau akan terjadi. Klausa adverbial cara diawali dengan kata tanya “bagaimana”. Contoh:

  • Ibu mengajar anaknya membaca dengan sabar dan penuh cinta. (Klausa adverbial cara: dengan sabar dan penuh cinta)
  • Anggota band itu tampil dengan energik di atas panggung. (Klausa adverbial cara: dengan energik di atas panggung)
  • Dia memasak mie instan dengan benar. (Klausa adverbial cara: dengan benar)

Klausa Adverbial Sebab-Akibat

Klausa ini memberikan informasi tentang penyebab dan akibat dari suatu kejadian atau peristiwa. Klausa adverbial sebab-akibat diawali dengan kata penghubung seperti “karena”, “sebab”, “karena itu”, atau “oleh karena itu”. Contoh:

  • Kita berangkat lebih awal karena ingin menghindari kemacetan. (Klausa adverbial sebab-akibat menggunakan sebab: karena ingin menghindari kemacetan)
  • Mereka harus membatalkan penerbangan karena cuaca buruk. (Klausa adverbial sebab-akibat menggunakan sebab: karena cuaca buruk)
  • Susi meraih banyak prestasi, maka dia dipandang sebagai idola oleh banyak orang. (Klausa adverbial sebab-akibat menggunakan sebab itu: maka dia dipandang sebagai idola oleh banyak orang).

Klausa Adverbial Tujuan

Klausa ini memberikan informasi tentang tujuan seseorang melakukan suatu kegiatan atau perbuatan. Klausa adverbial tujuan diawali dengan kata penghubung “agar”, “supaya”, atau “sehingga”. Contoh:

  • Kita berlatih setiap hari agar bisa tampil maksimal di pertandingan nanti. (Klausa adverbial tujuan: agar bisa tampil maksimal di pertandingan nanti)
  • Dia belajar dengan tekun supaya bisa mendapat beasiswa. (Klausa adverbial tujuan: supaya bisa mendapat beasiswa)
  • Sekolah memberikan tugas-tugas yang banyak kepada para siswa sehingga mereka bisa terlatih dengan baik. (Klausa adverbial tujuan: sehingga mereka bisa terlatih dengan baik)

Klausa Adverbial Syarat

Klausa ini memberikan informasi tentang syarat yang harus dipenuhi agar suatu kegiatan dapat dilakukan atau terjadi. Klausa adverbial syarat diawali dengan kata penghubung “jika”, “jikalau”, atau “kalau”. Contoh:

  • Jika kamu mau membantu kami, kami akan sangat bersyukur. (Klausa adverbial syarat: jika kamu mau membantu kami)
  • Kalau kamu mau, kita bisa pergi berlibur bersama. (Klausa adverbial syarat: Kalau kamu mau)
  • Jikalau kamu ingin cuti, harus meminta ijin terlebih dahulu ke atasan. (Klausa adverbial syarat: Jikalau kamu ingin cuti)

Klausa Adverbial Pembanding

Klausa ini memberikan informasi tentang perbandingan antara dua hal atau lebih. Klausa adverbial pembanding diawali dengan kata penghubung “sebagai”, “seperti”, atau “sama”. Contoh:

  • Anthony memasak makanan dengan keterampilan yang sama seperti ibunya. (Klausa adverbial pembanding: dengan keterampilan yang sama seperti ibunya)
  • Robert mengendarai mobil dengan kecepatan yang tinggi seperti seorang pembalap. (Klausa adverbial pembanding: dengan kecepatan yang tinggi seperti seorang pembalap)
  • Anda harus membuat presentasi yang baik seperti yang dilakukan oleh para ahli. (Klausa adverbial pembanding: seperti yang dilakukan oleh para ahli)

Dalam penggunaannya, setiap klausa adverbial dapat memberikan informasi tambahan untuk membuat kalimat lebih jelas dan rinci. Oleh karenanya, perlu mengerti bagaimana penggunaan dan struktur klausa adverbial dalam kalimat.

Klausa Utama vs Klausa Dependen

Klausa adalah bagian penting dalam bahasa Indonesia yang dapat membantu kita mengungkapkan arti kalimat yang lebih jelas dan terperinci. Secara umum, klausa dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu klausa utama dan klausa dependen. Berikut adalah penjelasan rinci tentang kedua jenis klausa tersebut.

Klausa Utama

Klausa utama adalah jenis klausa yang memiliki makna utama dalam sebuah kalimat. Klausa ini juga sering disebut dengan klausa independen karena dapat berdiri sendiri dan tidak memerlukan klausa lainnya untuk membantunya membentuk kalimat yang lengkap. Hampir semua jenis kalimat dalam bahasa Indonesia memiliki klausa utama, baik kalimat positif, negatif, maupun interogatif.

Contohnya dalam kalimat positif:

“Saya menyukai makanan Jepang.”

Klausa utama dalam kalimat ini adalah “Saya menyukai makanan Jepang,” karena klausa ini memiliki makna utama yang ingin disampaikan oleh pembicara. Klausa tersebut juga dapat berdiri sendiri dan memiliki arti yang lengkap tanpa perlu ditambahkan dengan klausa lainnya.

Klausa Dependen

Klausa dependen, dikenal juga sebagai klausa subordinatif, adalah jenis klausa yang tidak memiliki makna utama dalam sebuah kalimat. Klausa ini tidak dapat berdiri sendiri dan selalu memerlukan bantuan dari klausa utama untuk membentuk kalimat yang utuh dan bernuansa lengkap. Biasanya, klausa dependen digunakan sebagai penghubung antara klausa utama dan ide/gagasan lainnya pada klausa utama.

Ada beberapa jenis klausa dependen, seperti klausa waktu, klausa tempat, klausa sebab-akibat, dan lain-lain. Beberapa contoh kalimat yang menggunakan klausa dependen adalah:

  • “Saya akan bekerja keras supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus.”
  • “Saat saya sedang berjalan, saya melihat seekor burung terbang ke arah saya.”
  • “Karena hujan turun lebat, saya memutuskan untuk tidak bepergian jauh hari ini.”

Pada ketiga contoh kalimat di atas, klausa utama adalah “Saya akan bekerja keras,” “Saya melihat seekor burung terbang,” dan “Saya memutuskan untuk tidak bepergian jauh hari ini.” Sedangkan, klausa dependen masing-masing adalah “supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus,” “Saat saya sedang berjalan,” dan “Karena hujan turun lebat.”

Perbedaan Klausa Utama dan Klausa Dependen

Ada beberapa perbedaan utama antara klausa utama dan klausa dependen. Berikut adalah poin-poin perbedaan tersebut:

  1. Makna utama: Klausa utama memiliki makna utama dalam kalimat, sementara klausa dependen hanya membantu menghubungkan klausa utama dengan gagasan lainnya.
  2. Kemampuan berdiri sendiri: Klausa utama dapat berdiri sendiri dan memiliki arti yang lengkap, sedangkan klausa dependen tidak dapat berdiri sendiri dan selalu memerlukan bantuan dari klausa utama.
  3. Konjungsi: Klausa utama tidak memerlukan konjungsi dalam penggunaannya, sedangkan klausa dependen selalu memerlukan konjungsi untuk menghubungkan dengan klausa utama.
  4. Posisi dalam kalimat: Klausa utama biasanya ditempatkan pada awal, tengah, atau akhir kalimat, sedangkan klausa dependen selalu berada sebelum klausa utama.
  5. Pengaruh terhadap makna kalimat: Klausa utama dapat mempengaruhi makna kalimat secara langsung, sedangkan klausa dependen hanya memberikan informasi tambahan yang tidak terlalu mempengaruhi makna kalimat secara signifikan.

Dengan memahami perbedaan antara klausa utama dan klausa dependen, kita dapat menggunakan keduanya secara tepat dan memperkaya kekuatan komunikasi dalam bahasa Indonesia.

Klausa Nomina atau Noun Clause

Klausa adalah unsur kalimat yang memiliki subjek dan predikat, yang bisa berdiri sendiri sebagai kalimat. Ada beberapa jenis klausa, salah satunya klausa nomina atau noun clause. Seperti namanya, klausa ini menggunakan kata benda sebagai inti klausa atau kalimat utama.

Noun clause biasanya berperan sebagai subjek, objek, atau pelengkap dalam kalimat. Klausa ini juga dikenal dengan istilah “inti kalimat,” karena tanpa klausa ini, kalimat menjadi tidak utuh. Contohnya:

– Subject: Apa agama Adi? (What is Adi’s religion?)

– Object: Saya tahu bahwa kamu pintar. (I know that you are smart)

– Complement: Kebahagiaan saya adalah melihatmu bahagia. (My happiness is seeing you happy)

Noun clause

Klausa nomina (Noun Clause) sangat berguna untuk menjelaskan atau menanyakan informasi yang berguna dalam kalimat mu. Karena hanya menggunakan kata benda saja dalam membentuk klausa ini, maka peran verb di dalam klausa ini tidak terlalu penting.

Noun clause juga bisa dibentuk dengan menggunakan question word seperti “why,” “what,” “where,” “when,” dan “how” beserta subject dan verb. Contoh:

– Apa yang Anda makan tadi siang? (What did you eat for lunch?)

– Kapan kamu akan pulang? (When will you go home?)

– Bagaimana cara membuat kue ini? (What is the recipe to make this cake?)

Noun clause yang menggunakan question word ini sangat membantu dalam menggali informasi lebih dalam tentang subjek pembicaraan.

Selain menggunakan question word, noun clause juga bisa dibentuk dengan menggunakan kata pendukung seperti: if, that, whether, bahwa/ bahawa, dll.


– Saya ingin tahu apakah kamu sudah makan. (I want to know whether you have eaten)

– Dia bilang bahwa dia senang bertemu denganmu. (He said that he was happy to see you)


– Jika kamu ke hutan, saya akan ikut. (If you go to the forest, I will join)

Dalam penggunaannya, noun clause bisa diletakkan di awal, tengah, atau akhir kalimat. Di awal kalimat untuk menunjukkan subjek, di tengah untuk melengkapi objek, dan di akhir untuk menambahkan informasi terakhir pada kalimat itu.

– Bagaimana pendapatmu tentang film itu? (What do you think about that movie?)

– Saya harap kamu tidak lupa membawa kunci rumah itu besok. (I hope you don’t forget to bring the key to that house tomorrow)

– Kita akan tahu apakah cuaca cerah nanti. (We will know if the weather is good later)

Klausa nomina (noun clause) berguna untuk menyampaikan informasi yang lebih terperinci dan juga menghindari pengulangan subjek atau objek yang sama pada kalimat yang berbeda. \

Klausa Adjektiva atau Adjective Clause

Klausa Adjektiva atau Adjective Clause adalah klausa yang berfungsi sebagai pelengkap kalimat untuk menjelaskan atau memberikan informasi tambahan mengenai suatu kata benda atau subjek dalam kalimat. Klausa ini ditempatkan di dalam kalimat untuk memberikan informasi lebih rinci tentang kata benda atau subjek tersebut. Klausa Adjektiva bisa dianggap sebagai bagian kalimat yang menjelaskan dan memberikan pengertian lebih detil terhadap suatu kata benda atau subjek, sehingga dapat menambah pemahaman terhadap kalimat secara keseluruhan.

Klausa Adjektiva memiliki ciri khas yaitu selalu dimulai dengan kata hubung relative pronouns (who, whom, whose, which, atau that). Dalam klausa itu sendiri terdapat subjek dan predikat, yang memiliki fungsi sebagai objek dalam kalimat. Subyek klausa adjektiva ditempatkan setelah kata hubung, sedangkan predikatnya ditempatkan di akhir klausa.

  1. Kata Keterangan Sifat
  2. Klausa Adjektiva yang menjelaskan kata benda atau subjek dengan kata keterangan sifat sebagai pengganti atau penjelas kata benda atau subjek tersebut. Contohnya adalah:

    The book that I read yesterday was very interesting. (Buku yang saya baca kemarin sangat menarik).

    Pada contoh di atas, klausa “that I read yesterday” merupakan klausa adjektiva dan berperan sebagai subjek dari kata ganti benda “book”. Klausa tersebut memberikan informasi tambahan bahwa buku yang dimaksud adalah buku yang dibaca kemarin, sehingga pembaca dapat memahami kalimat dengan lebih baik.

  3. Kata Sifat
  4. Klausa Adjektiva juga bisa menjelaskan kata benda atau subjek dengan kata sifat sebagai penjelas kata benda atau subjek tersebut. Contohnya adalah:

    The girl who is playing tennis is my cousin. (Gadis yang sedang bermain tenis adalah sepupu saya).

    Pada contoh ini, klausa “who is playing tennis” merupakan klausa adjektiva yang menjelaskan kata benda “girl” dengan kata sifat “playing tennis”. Klausa tersebut memberikan informasi bahwa wanita yang dimaksud adalah yang sedang bermain tenis, sehingga pembaca dapat lebih memahami kalimat tersebut.

  5. Konstruksi Khusus
  6. Klausa Adjektiva juga bisa memiliki konstruksi khusus, seperti hanya menyertakan kata sifat atau kata keterangan tanpa ada subjek dalam klausa tersebut. Contohnya adalah:

    The man whose car is parked outside is my neighbor. (Pria yang mobilnya diparkir di luar adalah tetangga saya).

    Pada contoh di atas, klausa “whose car is parked outside” berperan sebagai objek dalam kalimat dan memiliki konstruksi khusus tanpa subjek, namun tetap memberikan informasi mengenai mobil milik pria tersebut. Informasi tersebut penting dalam menyampaikan pesan dalam kalimat.

  7. Kata Benda
  8. Klausa Adjektiva juga bisa menggunakan kata benda sebagai pelengkap untuk kata benda lainnya. Contohnya adalah:

    The book, which is on the table, is mine. (Buku yang ada di atas meja adalah milik saya).

    Pada contoh ini, klausa “which is on the table” berfungsi sebagai pelengkap kata benda “book”. Informasi tersebut memperjelas yang mana buku yang dimaksud, yaitu buku yang ada di atas meja.

  9. Kombinasi Kata Benda dan Kata Keterangan Sifat
  10. Klausa Adjektiva juga bisa mengkombinasikan kata benda dan kata keterangan sifat sebagai penjelas kata benda atau subjek dalam kalimat. Contohnya adalah:

    The woman, who is wearing a red dress, is my boss. (Wanita yang mengenakan baju merah adalah bos saya).

    Pada contoh ini, klausa “who is wearing a red dress” memiliki kombinasi antara kata benda “woman” dan kata sifat “wearing a red dress” sebagai pelengkap kata benda tersebut. Klausa tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa wanita itu mengenakan baju merah.

  11. Kata Ganti Orang
  12. Klausa Adjektiva juga bisa digunakan dengan subjek menggunakan kata ganti orang, seperti who, whom, atau whose. Contohnya adalah:

    The student who answered the question correctly will get a prize. (Siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapatkan hadiah).

    Pada contoh ini, klausa “who answered the question correctly” digunakan sebagai subjek yang dihubungkan dengan kata benda “student” menggunakan kata hubung “who”. Klausa tersebut memberikan informasi bahwa siswa yang dimaksud adalah yang menjawab pertanyaan dengan benar.

  13. Kata Ganti Benda
  14. Klausa Adjektiva juga bisa digunakan dengan subjek menggunakan kata ganti benda, seperti which atau that. Contohnya adalah:

    The car that is parked in front of the house is mine. (Mobil yang diparkir di depan rumah adalah milik saya).

    Pada contoh di atas, klausa “that is parked in front of the house” digunakan sebagai pelengkap kata benda “car”. Klausa tersebut memberikan informasi tentang mobil yang dimaksud, yaitu yang diparkir di depan rumah.

Dalam penulisan klausa adjektiva, penting untuk memperhatikan penggunaan kata hubung yang sesuai dengan konteks kalimat, serta menghindari pengulangan kata yang tidak perlu. Dengan menggunakan klausa adjektiva, kita dapat mengekspresikan ide dan meningkatkan pemahaman pembaca atau pendengar terhadap kalimat yang kita sampaikan.

Klausa Adverbial atau Adverb Clause

Klausa adalah sekelompok kata yang terdiri dari subjek dan predikat. Dalam konstruksi kalimat, klausa dapat bertindak sebagai subjek, objek, atau pelengkap. Salah satu jenis klausa yang umum digunakan adalah klausa adverbial atau adverb clause. Klausa adverbial digunakan untuk menambahkan informasi tambahan yang berkaitan dengan kata kerja dalam kalimat.

Pengertian Klausa Adverbial

Klausa adverbial adalah klausa yang berfungsi sebagai kata keterangan dalam kalimat. Klausa ini biasanya memuat kata keterangan waktu, tempat, cara, sebab, atau tujuan. Klausa adverbial dapat diletakkan di awal, tengah, atau akhir kalimat. Klausa adverbial diperkenalkan oleh kata penghubung (conjunction) seperti when, where, how, because, atau so that.

Jenis-jenis Klausa Adverbial

Berikut adalah beberapa jenis klausa adverbial beserta contohnya:

1. Klausa Pengantar Waktu (Time Clause)

Klausa pengantar waktu digunakan untuk menunjukkan kapan suatu peristiwa terjadi:

  • When I wake up, I always drink a cup of coffee. (Ketika saya bangun, saya selalu minum segelas kopi.)
  • I will call you as soon as I arrive at the airport. (Saya akan meneleponmu begitu saya tiba di bandara.)

2. Klausa Pengantar Tempat (Place Clause)

Klausa pengantar tempat digunakan untuk menunjukkan di mana suatu peristiwa terjadi:

  • Wherever you go, I will follow you. (Ke mana pun kamu pergi, saya akan mengikutimu.)
  • She likes to swim in the pool where she can see the skyline. (Dia suka berenang di kolam renang yang bisa dia lihat pemandangan horizon.)

3. Klausa Pengantar Cara (Manner Clause)

Klausa pengantar cara digunakan untuk menunjukkan bagaimana suatu peristiwa terjadi:

  • I always eat slowly so that I can enjoy my food. (Saya selalu makan pelan-pelan agar saya bisa menikmati makanan saya.)
  • He asked me how I learned to cook Indonesian food. (Dia bertanya bagaimana saya belajar memasak masakan Indonesia.)

4. Klausa Pengantar Sebab (Reason Clause)

Klausa pengantar sebab digunakan untuk menunjukkan penyebab di balik suatu peristiwa:

  • Because she was sick, she couldn’t come to the meeting. (Karena dia sakit, dia tidak bisa datang ke pertemuan.)
  • Since you’re already here, why don’t you come inside? (Karena kamu sudah di sini, kenapa tidak masuk?)

5. Klausa Pengantar Tujuan (Purpose Clause)

Klausa pengantar tujuan digunakan untuk menunjukkan tujuan dari suatu perbuatan atau kegiatan:

  • I came early so that I could get a good seat. (Saya datang lebih awal agar saya bisa mendapatkan tempat duduk yang baik.)
  • We’re going to the store so that we can buy some groceries. (Kami pergi ke toko agar kami bisa membeli beberapa barang belanjaan.)

Ciri-ciri Klausa Adverbial

Berikut adalah beberapa ciri-ciri klausa adverbial:

  • Mengandung salah satu kata penghubung seperti when, where, how, because, atau so that.
  • Berdasarkan jenis klausa adverbial, klausa ini dapat menunjukkan waktu, tempat, cara, sebab, atau tujuan.
  • Dapat diletakkan di awal, tengah, atau akhir kalimat.
  • Klausa adverbial bisa berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap, tetapi juga dapat digunakan dalam kalimat kompleks.

Kesimpulan

Klausa adverbial adalah klausa yang berfungsi sebagai kata keterangan dalam kalimat. Klausa ini digunakan untuk menunjukkan informasi tambahan yang berkaitan dengan kata kerja dalam kalimat. Klausa adverbial dapat diletakkan di awal, tengah, atau akhir kalimat dan diperkenalkan oleh kata penghubung seperti when, where, how, because, atau so that. Jenis-jenis klausa adverbial meliputi klausa pengantar waktu, tempat, cara, sebab, dan tujuan.

Contoh Kalimat dengan Klausa

Klausa adalah bagian dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat dan dapat berdiri sendiri sebagai kalimat utama. Klausa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu klausa utama dan klausa anak. Berikut adalah beberapa contoh kalimat dengan klausa:

1. Klausa Utama

Klausa utama adalah kalimat yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan kalimat lainnya. Berikut adalah beberapa contoh kalimat dengan klausa utama:

  • Saya sedang makan siang.
  • Ani bermain piano dengan indah.
  • Indonesia memiliki beragam jenis suku dan budaya.

2. Klausa Anak

Klausa anak adalah kalimat yang membutuhkan klausa utama sebagai pendukungnya. Klausa anak terbagi menjadi dua jenis, yaitu klausa nominal dan klausa verbal. Berikut adalah beberapa contoh kalimat dengan klausa anak:

  • Tadi pagi, saat saya sedang berlari di taman, saya melihat anak kecil menangis.
  • Siang tadi, ketika Ani sedang membersihkan rumah, dia menemukan uang 50 ribu di bawah sofa.
  • Waktu itu, ketika saya sedang masuk universitas, saya merasa sangat gugup.

3. Klausa Nominal

Klausa nominal adalah klausa yang berperan sebagai subjek atau objek dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa nominal:

  • Bahwa dia lulus ujian dengan nilai yang bagus membuat orangtuanya sangat bahagia.
  • Yang menjadi masalah saat ini adalah kurangnya ketersediaan vaksin.
  • Bahwa Indonesia memiliki banyak pulau membuat negara ini kaya akan keanekaragaman flora dan fauna.

4. Klausa Verbal

Klausa verbal adalah klausa yang berperan sebagai predikat dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa verbal:

  • Saya berpikir bahwa dia sudah pergi dari sini.
  • Kami yakin bahwa mereka akan datang tepat waktu.
  • Saya tahu bahwa kamu sedang sibuk, tetapi bisakah kamu membantu saya sebentar?

5. Klausa Adjektival

Klausa adjektival adalah klausa yang berperan sebagai keterangan sifat dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa adjektival:

  • Pria yang tinggi itu adalah ayahku.
  • Mobil yang saya beli kemarin sudah rusak.
  • Buku yang saya baca tadi malam sangat menarik.

6. Klausa Preposisional

Klausa preposisional adalah klausa yang menggunakan kata depan (preposisi) dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa preposisional:

  • Saya datang ke toko yang ada di sebelah kantor pos.
  • Ani suka makan di restoran yang dekat dengan rumahnya.
  • Kami berjalan di taman yang di belakang gereja.

7. Klausa Infinitif

Klausa infinitif adalah klausa yang menggunakan kata “untuk” atau “agar” dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa infinitif:

  • Saya belajar IT untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan teknologi.
  • Kita perlu makan sehat agar tubuh kita tetap sehat dan bugar.
  • Saya ingin belajar bahasa asing untuk bisa bekerja di luar negeri.

8. Klausa Interogatif

Klausa interogatif adalah klausa yang berperan sebagai pertanyaan dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa interogatif:

  • Apa yang kamu lakukan kemarin?
  • Kapan kamu akan pergi ke Bali?
  • Siapa yang memenangkan pertandingan tadi?

9. Klausa Aposisi

Klausa aposisi adalah klausa yang berfungsi untuk menjelaskan atau memberikan informasi tambahan tentang suatu kata dalam kalimat. Misalnya, subjek atau objek dalam kalimat. Berikut adalah contoh kalimat dengan klausa aposisi:

  • Hewan yang paling saya sukai, kucing, sedang tidur di sofa.
  • Anakku, Bayu, sedang belajar untuk ujian besok.
  • Buah yang enak dimakan, mangga, sudah habis.

Dari beberapa contoh kalimat dengan klausa di atas, dapat diketahui bahwa klausa berperan penting dalam pembentukan kalimat yang baik dan benar. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami jenis-jenis klausa dan bagaimana penggunaannya dalam kalimat.

Sampai Bertemu Lagi!

Itu dia ulasan mengenai klausa adalah. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi kamu yang ingin memperdalam ilmu bahasa Indonesia. Jangan lupa terus kunjungi kami di halaman website ini ya. Sampai jumpa lagi!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *